Oct201624

wall paper web

 

                  Perkembangan dunia medis indonesia berawal dari serangan berbagai virus penyakit di setiap daerah di Indonesia  seperti serangan virus cacar yang  terjadi  di daerah  ternate di tahun 1558, dan di ambon pada tahun 1564. Kemudian pada tahun 1821 terjadi serangan wabah penyakit kolera di jawa sehingga mengakibatkan gagal panen padi akibat banyaknya warga yang terserang penyakit kolera.

                 Di tahun 1828 terjadi wabah cacar di bali dan di tahun 1846 terjadi wabah typus di pulau Jawa. Akhirnya pada tahun 1848 pemerintah Belanda mengeluarkan konstitusi baru yang isinya Dewan Negara (parlemen) Belanda mempunyai kuasa atas urusan-urusan kolonial. Sebagian anggota parlemen menuntut adanya perubahan di tanah jajahan serta mendesak diadakan pembaruan liberal. Diantaranya pengurangan peranan pemerintah dalam perekonomian kolonial, pembebasan terhadap pembatasan perusahaan swasta dan diakhirinya tanam paksa. Untuk memperjuangkan tuntutan dengan melakukan demonstrasi oleh Baron van Hovell memohon kepada raja belanda agar diberlakukan kebebasan pers, sekolah menengah untuk masyarakat dan perwakilan Hindia Belanda di Dewan Negara.

                  Pada 2 Januari 1849 Keputusan Gubernermen no.22 yang menetapkan akan diselenggarkanya pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie). Tempat pendidikan ialah Rumah Sakit Militer. Kemudian di bulan januari tahun 1851 dibuka kembali sekolah pendidika kedokteran “Dokter-Jawa” di Weltervreden di Batavia yang saat ini dikenal dengan daerah Gambir Jakarta. Jumlah siswa yang ikut sekolah ini sebanyak 12 orang murid dengan masa tempuh pendidikan selama 2 tahun. Kemudian tanggal 5 juni 1853 dengan surat keputusann gibernemen no 10 di tetapkan bahwa lulusan diberi gelar Dokter Djawa tetapi dipekerjakan sebagai Mantri Cacar. Pada tahun 1864 terjadi perkembangan terhadap pendidikan kedokteran di Indonesia, bukan hanya sebagai mantri cacar tetapi sebagai dokter yang dapat berdiri sendiri meskipun masih di bawah pengawasan dokter belanda dengan lama pendidikan menjadi 3 tahun. kemudian di tahun 1875 pendidikan kedokteran menjadi 7 tahun dan dibagi menjadi 2 tahapan yakni 2 tahun bagian persiapan dan 5 tahun bagian kedokteran. Dan di 2 tahun pertama persiapan seluruh siswa diajarkan bahasa belanda sebagai bahasa pengantar.

                  Di tahun 1898 didirikanlah pendidikan kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleiding voor Indische Artsen) yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari perkembangan dan pengembangan Sekolah Dokter Djawa yang terus menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum dan perubahan nama. Dan di STOVIA inilah yang menjadi cikal bakal dari organisasi Budi Oetomo.  Pada tanggal 24 April 1943 STOVIA berubah nama menjadi IKA DAI GAKU oleh jepang, dan setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya di bulan Februari tahun 1946 nama sekolah kedokteran IKA DAIGAKU berubah nama menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia. Pada tahun 1948 didirikan pula perkumpulan dokter indonesia (PDI) yang di motori oleh kalangan dokter muda di bawah pimpinan dr. Darma Setiawan Notohadmojo. Dan tanggal 24 Oktober lahirnya IDI (Ikatan Dokter Indonesia) yang merupakan sebuah kegiatan organisasi profesi. 66 tahun yang lalu  IDI telah didirikan atasjasa dari Dr. Soeharto dan kawan-kawan yang melegalkan berdirinya IDI Notaris. Pada tahun 1926, telah terjadi perkumpulan Vereniging van Indische Artsen dan berubah namanya dengan Vereniging Van Indonesische Genesjkundigen (VIG). dan hingga saat ini ditetapkanlah tanggal 24 Oktober sebagai Hari Kedokteran Nasional.

SELAMAT HARI KEDOKTERAN NASIONAL…

“Karena orang yang paling berjasa di dunia adalah orang yang mampu menyelamatkan orang lain”                                                                                                                                                                                                                               (Annonim)