Nov201625

PicsArt_11-25-10.46.05 (1)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Guru berarti orang yang pekerjaannya mengajar. Dan tahukah Baraya tanggal 25 November di tetapkan sebagai hari guru sejak puluhan tahun lalu. Para guru ini memiliki sebuah tekad kuat yakni ingin mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena ada banyak cara untuk berjuang mencapai dan mengisi kemerkdekaan. Pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang dengan senjata saja, namun juga mereka para guru yang mengobarkan semangat pendidikan di bumi pertiwi. Bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional yuk Baraya kita simak bersama-sama perjalanan para Guru dalam berjuang mencerdaskan anak-anak Indonesia yang berada di daerah pedalaman yang pastinya bisa menginspirasi bagi kita semua….

1. Ervan, Guru Muda di Pedalaman Sumba Timur

Ervan adalah seorang guru muda asal Malang yang terketuk hatinya untuk mengajar di Pedalaman. Mengikuti program pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan daerah tertinggal, pria satu ini mendapatkan tempat mengajar di pedalaman Sumba Timur. Dari sini cerita perjuangan heroiknya dimulai.

Ervan benar-benar harus berjuang banyak di SD Masehi Billa tempatnya mengajar, ada banyak tantangan yang harus dihadapinya. Ia harus hidup prihatin dengan menempati salah satu ruang perpus untuk tempatnya tinggal, belum lagi ketika sakit ia harus menempuh perjalanan 6 jam dari lokasi untuk ke puskesmas. Yang paling sedih adalah tentu saja ia tidak bisa berkabar dengan sanak keluarganya lantaran hampir tidak ada sinyal disana. Untungnya Ervan merupakan satu diantara seluruh anak muda tangguh yang niatnya benar-benar tulus. Kepala sekolah SD Masehi Billa, Banja Aanawa sampai mengatakan jika kehadirannya benar-benar sebuah berkah….

2. Saraban, Tuntaskan Buta Huruf di Desa Terpencil Papua

Pemuda ini bernama Saraban, mahasiswa lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang dengan semangat ingin menunjukkan aksi nyata kepeduliannya dengan berangkat ke Desa Oklip Papua. Di desa yang berbatasan dengan Papua Nugini itu, Saraban mengajar sebuah SMP yang jauh dari perkiraannya. Kondisi sekolah yang ala kadarnya menjadi bukti jika daerah tertinggal memang selalu disepelekan. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk masuk kelas dan mengajar anak-anak SMP yang menurutnya juga belum terlalu bisa baca dan tulis. Saraban tahu jika ini akan berat, namun niat baik dari awalnya sudah kuat hingga akhirnnya dia mampu bertahan. untung saja dari segi kehidupan tidak terlalu memprihatinkan kecuali tidak adanya listrik dalam waktu yang lama…..

3. Novianti Islahniah, Guru Tangguh Asal Bandung Untuk Masyarakat Akoja Aceh

Ibu Bandung, begitulah ia disapa oleh murid muridnya, sebutan ini karena beliau berasal dari Bandung yang diperbantukan ke sebuah desa di Aceh bernama Akoja. Sama seperti Rekan-rekannya yang lain, menjadi guru di pedalaman memang takkan pernah mudah. Novianti mungkin beruntung lantaran infrastruktur di sini sudah lumayan bagus. Namun, tetap saja butuh perjuangan ekstra. Misalnya ia harus mengarungi sungai untuk bisa sampai ke tempatnya mengajar. Tempatnya mengajar juga rawan bencana, misalnya Banjir. bahkan jika banjir datang maka sekolah otomatis harus diliburkan dan warga memilih untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Meskipun begitu, sambutan hangat serta melihat mata anak-anak didiknya yang berbinar ketika ke sekolah mampu meluluhkan hati Novianti untuk setia mengajarkan murid-muridnya agar dapat meraih mimpi yang lebih layak…..

4. Sri Utami Guru Bantu di Pedalaman Gorontalo

Apa jadinya jika seorang guru yang sukses mencerdaskan putra bangsa malah tidak mampu menyekolahkan anaknya sendiri ? Nasib ini dialami oleh seorang wanita bernama Sri Utami yang menjadi guru bantu di Boalemo Gorontalo. Ia tidak dapat berharap banyak pada gaji bulanannya sebagai guru bantu di daerah terpencil. Ia bahkan harus menempuh dua bukit serta dua anak sungai untuk bisa sampai ke sekolah. Meskipun begitu ia tidak sanggup menyekolahkan anaknya dan hidup dalam serba kekuragan. Namun, semangatnya untuk menjadi guru di daerah tertinggal itu menjadikannya lebih kaya secara hakikat dari orang lain. Sudah hampir 10 tahun ia menjadi guru bantuk, namun nasibnya tak kunjung membaik. Harapannya menjadi PNS pun sirna dengan umurnya yang sudah tak muda lagi. Meskipun demikian ia tetap ingin menjadikan murid didiknya lebih baik.

5. Agustinus, Perjuangan Guru Tanpa Tunjangan

Melewati sungai-sungai mungkin bagi kita jadi hiburan unik dan asyik, namun bagi pria bernama Agustinus ini, hal itu adalah rutinitasnya sehari hari. Setiap hari ia harus melewati sungai yang airnya sangat deras untuk bisa mengajar di sekolah tercintanya di SDN 20 Landau Bunga di daerah pedalaman Melawi. Butuh setidaknya dua jam untuk pergi ke sekolah termasuk melewati sungan deras tersebut. tidak hanya itu hidup Agustinus juga sebuah ujian tersendiri. Sebagai guru di daerah pedalaman ia mendapakan gaji yang sedikit sekali. Padahal barang-barang disana harganya mahal. Alhasil ia harus hidup sangat bersahaja. Sempat ia mengandalkan janji tunjangan dari pemerintah namun sampai saat ini tidak terealisasi. Tak peduli lagi dengan janji pemerintah, ia pun tetap mengajar dengan hati. Demi anak didiknya agar bisa mendapatkan nasib yang lebih baik. Setidaknya mampu menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

6. Ketika Tentara Juga Terketuk Hatinya Untuk Mengajar

Seorang guru yang terketuk hatinya untuk mengajar di pedalaman mungkin adalah hal yang lumrah. Mengingat basis profesi mereka memang seperti itu. Tapi Tentara ? Hal ini tentu saja menjadi sangat unik dan menarik. Beberapa tentara yang ada di daerah terpencil mengusung dua misi penting yakni mengamankan kedaulatan dan meningkatkan taraf pendidikan anak-anak setempat dengan cara mengajar.

tidak terlalu banyak perbedaan antara guru dan tentara dalam cara mengajar. Para tentara ini ternyata sangat mampu berkomunikasi dengan baik tanpa perlu main bentak seperti di kesatuan. Bahkan bisa membawa kelas lebih aktif dan hidup. Mereka guru hanya saja berseragam tentara.

Jumlah guru di kota sangat melimpah menurut daftar statistik setempat. Tapi, tak banyak hatinya yang terketuk untuk mengajar di tempat tempat seperti ini. sampai akhirnya diberdayakan agar anak-anak di pedalaman dapat merasakan asiknya bersekolah….

Selamat Hari Guru, semoga mereka tetap akan membimbing putra putri bangsa meraih cita citanya dan membanggakan negara…satu harapan pula agar para guru terutama yang saat ini sedang berjuang di pelosok-pelosok Indonesia mampu mendapatkan apresiasi setimpal atas apa yang dilakukannya….