Oct201628

IMG-20161026-WA0013

            Hari ini tepatnya tanggal 28 Oktober menjadi hari yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia khususnya kaum pemuda dan pemudi. Karena di tanggal inilah para pemuda indonesia bersemangat melawan para penjajah negara ini dengan lahirnnya sumpah pemuda. Kalau kita mengingat sumpah pemuda pastinya selain mengingat isi dari sumpah pemuda, kita juga harus tahu dimana sih lokasi perumusan isi sumpah pemuda dan pembacaan ikrar sumpah pemuda yang terletak di Jalan Kramat No. 106.  Di sanalah, Soegondo Djojopoespito (PPPI), RM Djoko Marsaid (Jong Java), Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), R Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Senduk (Jong Celebes), Johanes Leimena (Jong Ambon), Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi) beserta 96 tamu lainnya merumuskan naskah sumpah pemuda dan membacakannya di depan tentara Belanda. Pada saat itu mereka masih dalam usia yang muda yakni itu rata-rata usia pemuda baru masuk 20-an,dan banyak pula yang di bawah 18 tahun.  Kenangan demi kenangan telah berlalu, dan sekarang  gedung ini dijadikan sebuah museum bernama Sumpah Pemuda. Awalnya, gedung yang digunakan merupakan sebuah rumah yang disewakan untuk para mahasiswa saat merantau ke Jakarta yang dulu bernama Batavia.

400-museum-sumpah-pemuda

           Saat memasuki gedung, sambutan hangat dari pigura pemuda Indonesia menjadi hiasan menarik yang bisa membawa imajinasi saat kondisi mereka sedang berkumpul saat itu. Dengan tiga patung yang tampak asik bergurau. Tempat ini merupakan ruang tengah kos-kosan ini. Hampir seluruh ruangan di museum ini dulunya merupakan bekas kamar para mahasiswa. Dan, pelaksanaan kongress Sumpah Pemuda II dilaksanakan di ruangan tengah dan rasanya terbayang bagaimana kondisi rapat yang dilaksanakan 27-28 Oktober 1928 kala itu.  Di sana terdapat pigura kelima pemimpin kongress saat itu, mereka semua memakai baju seragam berwarna putih yang menggambarkan siap untuk merebut kekuasaan Belanda. Di samping mereka ada patung WR Supratman sedang bermain biola, di mana biola itu mengalunkan instrument Indonesia Raya untuk pertama kali. Dan lagu ini sukses menghipnotis para pemuda saat itu. Di sanalah, lagu nasional ini menjadi semangat bagi pemuda untuk memberontak.

wr supratman a_31_1397635644

       Dibalik keindahan instrument lagu Indonesia Raya yang dibuat oleh WR. Supratman ternyata beliau ini Hidupnya Tanpa Cinta. Bahkan  Soperatman dikenal sebagai wartawan yang suka bermain musik dan kongko-kongko dengan para pemuda di markas Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia di Kramat Raya nomor 106. Ia mengenal musik sejak usianya 11 tahun. Pada 1938, ia pernah dibui Belanda. Usai dibebaskan, Soepratman sakit-sakitan. Dalam catatan Kuisbini, karib sesama komponis, Soepratman kerap datang ke warung Asih di Kapasari atau warung Djurasim di Bubutan, Surabaya, untuk menghibur diri membunuh sepi. Namun di warung itu pun ia cuma melamun ditemani kue dan secangkir kopi. “W.R. Soeprratman menutup rahasia hidupnya dalam Taman Asmara,” tulis Kusbini suatu kali. “Taman Asmara” adalah istilah Kusbini untuk patah hati sahabatnya. Sayang hingga akhir hayatnya, Soepratman meninggal tengah malam 17 Agustus 1938, persoalan cinta itu tetap jadi teka-teki hingga sekarang.

         Setelah pengucapan ikrar Sumpah Pemuda, di sini juga Bahasa Indonesia mulai dipakai dan digunakan. Namun, seusai kongress, para mahasiswa yang tergabung dalam kongress pun lulus kuliah dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Kosan ini tidak jadi kosan lagi melainkan jadi toko bunga, dan hotel pada masa itu. Selain lokasi dimana Sumpah Pemuda di gaungkan ada beberapa kisah unik lainnya loh diantaranya bahwa skrip sumpah pemuda ini ditulis oleh Satu Orang saja loh jadi ceritanya Ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato di sesi terakhir kongres, sekretaris Yamin yang duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan secarik kertas pada Soegondo sembari berbisik, “Saya punya rumusan resolusi yang elegan.” Soegondo lalu membaca usulan resolusi itu, memandang Yamin. Yamin tersenyum. Spontan Soegondo membubuhkan paraf “setuju.” Usulan resolusi itulah yang menjadi isi sumpah pemuda yang kita hafal sampai sekarang ini. Selain itu Sumpah pemuda terdiri dari tiga butir yang ditulis menggunakan ejaan van Ophuysen, yaitu ejaan yang digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda.

Nah itu dia beberapa kisah dibalik sejarah Sumpah Pemuda semoga informasi ini bermanfaat bagi Baraya ya dan Selamat Hari Sumpah Pemuda !!

Sumber : Dari Berbagai Sumber