Asal-usul Jalan Braga
Mar201519

Jalan utama di Bandung sepanjang 600 meter dan lebar 7,5 meter ini pernah tercatat sebagai jalan yang terkenal sebagai pusat perbelanjaan dan tempat bersosialisasi yang ramai di zaman Belanda.
Secara singkat, sejarah Jalan Braga bisa dijelaskan dalam tiga tahap berikut: Pertama, ambisi Gubernur Jenderal H.W. Daendles (1801 – 1811) untuk membangun Jalan Raya Pos yang membentang 1.000 kilometer dari Anyer hingga ke Panarukan. Sebagian dari Jalan Raya Pos ini yang menjadi cikal bakal Jl. Jend. Sudirman – Jl. Asia Afrika – Jl. Ahmad Yani di kota Bandung.

Kedua, kondisi kas Belanda yang terkuras akibat Perang Diponegoro (1825 – 1830) serta perang-perang perlawanan lainnya, membuat pemerintahan kolonial memberlakukan Politik Tanam Paksa (cultuurstelsel) dari tahun 1831 – 1870. Kopi, sebagai salah satu hasil bumi dari tanah Priyangan, harus dikirimkan ke tempat pengemasan bernama Koffie Pakhuis yang berada kira-kira satu kilometer di sebelah utara Jalan Raya Pos.

Ketiga, pengiriman kopi itu dilakukan dengan melintasi jalan setapak berlumpur yang biasanya hanya dilewati pedati yang ditarik kuda. Jalan setapak ini dikenal dengan nama Pedati Weg atau Jalan Pedati.

Jalan ini lambat laun berkembang menjadi tempat pemukiman penduduk. Pada tahun 1974, mulai terdapat enam hingga tujuh rumah permanen yang diselingi warung-warung beratap rumbia. Jalan Pedati inilah yang kemudian berkembang menjadi Jalan Braga yang sekarang ada di kota Bandung.

Masa jaya Jalan Braga sebagai tempat berkumpul dan pusat perbelanjaan yang ramai dimulai pada tahun 1920 hingga dimulainya masa pendudukan Jepang pada tahun 1942. Banyak pengusaha yang memindahkan tempat usahanya ke jalan ini. Ada juga yang membuka cabang bisnisnya di jalan ini. Dulu, arloji buat Swiss yang terkenal itu hanya bisa diperoleh di Toko Stocker yang ada di jalan ini. Toko-toko pakaian yang menyediakan mode terbaru dari Perancis juga pernah ada di sini. Di tempat ini juga, perusahaan Fuchs & Rens menjual mobil-mobil keluaran terbaru buatan Eropa. Para pengusaha kaya Preanger Planters pun menjadikan jalan ini sebagai tempat bersosialisasi.

Asal-usul nama “braga” sendiri masih simpang siur. Ada yang mengatakan kalau “braga” berasal dari nama Theotila Braga (1834 – 1924) seorang penulis naskah drama. Di kawasan ini memang pernah bermarkas perkumpulan drama bangsa Belanda yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen. Ada juga yang mengatakan kalau “braga” berasal dari kata “bragi”, nama dewa puisi dalam mitologi bangsa Jerman. Sementara ahli sastra Sunda mengatakan kalau “baraga” merujuk pada jalan di tepi sungai. Dan memang, Jalan Braga ini terletak di tepi Sungai Cikapundung.

Itulah sedikit sejarah tentang asal-usul Jalan Braga, Baraya. Semoga menambah pengetahuan tentang Bandung ya! 🙂