Bencana Asap di Indonesia
Oct201527

Selama tahun 2015 ini, ada hal yang akan jadi sejarah bagi kehidupan kita, kehidupan anak cucu kita. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang terjadi sejak awal September 2015 lalu, hingga artikel ini ditulis, 26 Oktober 2015 masih belum bias ditangani oleh pemerintah. Berdasarkan informasi yang didapat, titik api yang bermunculan mencapai angka hingga ribuan. Bencana asap ini juga tidak hanya berdampak di Indonesia, tapi juga berdampak di luar negeri, seperti Malaysia, Singapore, Filipina, bahkan sampai ke Thailand. Jarak pandang yang hanya beberapa meter membuat aktifitas di Sumatera dan Kalimantan menjadi terganggu. Bahkan banyak sekolah yang diliburkan karena asap yang semakin tebal dan kualitas udara yang memburuk setiap harinya. Tentu saja kualitas udara yang sangat buruk ini berdampak pada kesehatan. Termasuk kesehatan balita, anak-anak, hingga manula. Setiap harinya ada saja yang mengeluh sesak nafas, mata perih dan merasa terganggu aktifitasnya berkat udara yang tidak baik. Bahkan beberapa balita tidak sanggup bertahan karena buruknya kualias udara.

BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) memperkirakan ada lebih dari 43 juta jiwa penduduk terpapar oleh asap. Data ini hanya dihitung di Sumatera dan Kalimantan dan dianalisis dari peta sebaran asap dengan peta jumlah penduduk. Siang hari pun terasa seperti sudah malam karena asap yang menyelimuti setiap sudut daerah. Titik api belum berhasil dipadamkan hingga berbulan-bulan. Parahnya lagi, asap yang awalnya hanya di sekitar Riau, berhasil “melancong” ke Jambi, Medan, Bukittinggi, dan sekitarnya. Beberapa kali juga penerbangan tertunda karena tertutupnya jalur penerbangan karena asap. Asap yang menutupi ini pun berhasil menyebrang pulau hingga Jakarta. Terbukti dengan ditundanya beberapa penerbangan dari bandara Soekarno Hatta – Cengkareng.

Duet kemarau dan kebakaran hutan yang menyebabkan polusi asap ini terjadi hampir setiap tahun di Indonesia, terutama di provinsi-provinsi yang pembakaran lahan ilegal dilakukan secara rutin untuk melakukan pembebasan lahan untuk ditanami. Hal ini diperparah dengan kemarau berkepanjangan yang mempersulit upaya pemadaman. Disebutkan bahwa bencana asap di tahun ini adalah bencana kebakaran hutan terparah sepanjang sejarah.

Dampak dari kebakaran ini tidak main-main, mulai dari kecaman yang kita dapat dari Negara lain yang negaranya terkena dampak asap dari Indonesia, bahkan sampai permohonan mundurnya tanggal Ujian Nasional 2016 karena beberapa sekolah banyak yang diliburkan mengingat bahayanya asap jika terhisap oleh saluran pernafasan. Ribuan orang menderita akibat bencana asap yang besar ini, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang “populer” di daerah yang terkena bencana asap.
Kabut asap dari bencana kebakaran Indonesia ini tidak bisa kita pandang hanya sebelah mata, bray. Mereka disana menderita karena keserakahan orang-orang yang sengaja membakar lahan demi untuk membuka lahan yang baru untuk menguntungkan diri sendiri dan kelompoknya. Semoga saudara kita disana senantiasa diberi kekuatan untuk menghadapi bencana ini dan yang paling menjadi harapan kita semua adalah segera berakhirnya bencana yang setiap hari semakin meluas ini. Jika selama ini kita masih mengeluhkan hal-hal kecil, mari bersyukur karena kita masih diberi banyak kemudahan, contoh kecilnya adalah udara segar yang setiap hari kita hirup.